Belakangan ini, saya gemar membikin kalimat-kalimat singkat di twitter. Tapi apakah kalimat-kalimat di bawah ini pantas disebut sajak? Tapi apa pun itu, saya akan tetap menyebutnya sebagai proses agar bisa berdiri tegak di puncak sajak.
- Keindahan sebuah ciuman, tergantung bagaimana lidahmu melidahkanku.
- Jika dengan ciuman kesedihanmu tidak berkurang, manalah mungkin kusebut engkau sebuah kebahagiaan.
- Cinta sering tak tepat waktu. Dan airmata, bagi kita bukanlah hal baru.
- Ketika maut memelukmu, kebenaran telah menunggumu, di sorga.
- Kita persis sepasang penyangkal ulung. Tapi sebenarnya kita adalah batu; saling menunggu, siapa lebih dulu menjadi palu.
- Menepilah cinta, menyepilah di dadaku. Kita biarkan kesedihan membikin airmata, memaknai kejatuhannya.
- Jika ciuman semata menyesatkan, lindungi aku dari lidah yang memabukkan.
- Tuhan, nikmatkan aku dengan satu ciuman.
- Dalam sajak yang hakiki, metafora memilih jadi api: dihangatkannya kata-kata dengan bismillah.
- Bahkan dalam sajak seorang penyair; kata-kata menyerupai kelembutan dzikir -- asma Allah tergetar di sudut bibir.
- Airmata adalah suara, nafas lain dari doa yang melata ke sidratul muntaha.
- Cinta menghalalkan segala cara. Sajak mengekalkannya dengan segenap kata.
- Memilikimu, seperti mengucap sebuah kata mustahil. Sebab telingamu tak berani mendengar. Dan kata-kata raib dari lidah.
0 komentar:
Posting Komentar