1.
kenangan seperti kawan lama: rokok dan secangkir kopi, misalnya.
cinta yang menyisakan pahit di hisapan terakhir sebelum abu
2.
kenangan adalah sorga bagi mereka yang kehilangan.
3.
mari, kita nyanyikan lagu kegembiraan, sayang.
lalu kita pastikan duka menyerah pada ingatan
yang tabah membangun jembatan
4.
bahkan sunyi pun tak pernah peduli,
kenapa bayang-bayang berubah bentuk
jadi anak-anak puisi yang gagal meriangkan diri.
5.
barangkali, cuma secangkir kopi yang bisa
melidahkan basa-basi. dengan senang hati,
cinta datang dan pergi.
6.
di matamu: ada jutaan kunang-kunang mencari punggung;
aku hanya sunyi puisi, di atas panggung meminjam matamu.
7.
Semenjak mataku tertuju padamu, aku jadi tahu,
cinta bukan tentang dua bola mata yang terpejam.
8.
segala kecemasanku, kekasih, adalah jendela waktu yang kubuka;
membiarkanmu masuk dengan cara yang tak kuduga.
9.
Di tanganku, ada asa kau titipkan; semacam meminta kekal bahagia.
Padahal, kedua mataku sudah lama membinar pinta
10.
bahkan jemariku masih menari, Puan.
menulis-lukis engkau tiap pagi--saban malam,
meski kenyataan berdiri begitu mengharukan.
11.
Rindu itu, Kekasih, bahasa yang hanya dimengerti oleh sunyi.
Di tubuhku, huruf-huruf berkerumun, menyamarkan detak jantung.
12.
tiba-tiba ada yg raib dari matamu; ciuman selembut satin,
bisik kecil penunggang musim seolah menjelma makam dalam sajakmu.
13.
aku menafsir matamu penuh iba, di dalamnya,
hujan melebat keasingan bahasa, tak ada tanda baca -- linang sepi semata.
14.
sesekali, bertanyalah kepada batu, kenapa ia begitu keras diam dan menunggu,
sebelum tangan kecil melemparkan ke lautan
15.
sesekali, bertanyalah kepada batu, kenapa ia begitu keras diam dan menunggu,
sebelum hujan mengikis habis kesunyian
16.
sejak mataku menguasai seluruh kesedihan,
waktu tidak ubahnya rombongan pengantar jenazah
;menguburkan kepedihan yang sudah-sudah
17.
Dengan sajak, aku menyentuhmu, rindu menjadi bahasa yang kupakai
ketika cinta tak lagi sampai
0 komentar:
Posting Komentar